domingo, 4 de marzo de 2018

Mereka yang Tak Terlihat (True Story) - Part 1


Mereka yang Tak Terlihat (True Story)
Story by Meilani Mu'adzimah (kiriman adders)
Part 1

***
Namaku Alza. Aku tinggal disebuah kota yang bisa disebut cukup ramai. Aku anak tunggal dari pasangan suami istri yang kaya. Ayahku seorang fotografer dan ibuku seorang desainer.
Ayahku selalu kebanjiran job sama seperti ibu, sehingga aku sehari-hari hanya diurus oleh seorang babysister dan beberapa pelayan di rumahku. Kalau soal materi, apapun yang kuminta pasti diberikan. Yang kurang hanya 1 yaitu kasih sayang. Kasih sayang seorang sahabat serta orang tua. Walaupun usiaku sekarang sudah 17 tahun..tapi aku masih diurus babysister. Segalanya, dimulai makan, mandi, sarapan. Hampir tak pernah kulakukan bersama ayah dan ibu. Jadi, babysister yang menggantikannya. Aku juga tak begitu banyak punya teman. Ini disebabkan karena aku anak yang pendiam. Sikapku itu bukan tanpa alasan, aku bisa melihat makhluk yang tak bisa dilihat oleh orang biasa.

Pagi itu ketika aku terbangun, sudah ada seorang babysister yang biasa menjagaku, dia Nona Anya. Dia masih lajang, usianya 29 tahun. Dia menjagaku sejak aku kecil. Entah umur berapa, aku sudah lupa. Aku biasa memanggilnya Kak Anya. Dia menolak dipanggil ibu, tante atau sejenisnya. Dia selalu berada di samping tempat tidurku setiap kali aku bangun, dan tak lupa, si "dia" juga ada di sana, tepat disamping Kak Anya, selalu. Dia laki-laki. Mungkin usianya sekitar 25 tahunan. Dia selalu menatapku sendu. Ntah apa yang ingin dia katakan. Aku tak pernah mencoba bicara padanya. Dan hanya aku yang bisa melihatnya. Penampilannya tidak menyeramkan, hanya saja dia selalu punya tatapan sendu. Warna bajunya abu-abu tua dan celana yang berwarna senada. Dia tak pernah sekalipun terlihat tersenyum. Kau tahu?

Dialah makhluk tak kasat mata pertama yang kulihat ketika aku menyadari ada yang beda dengan penglihatanku. Dia selalu berada di samping Kak Anya setiap pagi, di kamarku. Dulu kukira dia orang asing yang ingin mencuri di kamarku. Tapi setelah kuperhatikan, dia tak pernah mencoba melakukan apapun. Dia hanya berdiri diam. Menatapku. Dulu aku sempat bertanya "Siapa yang kau bawa ke kamarku, Kak Anya?" Tapi Kak Anya bilang dia tidak membawa siapapun ke kamarku. Dia hanya sendiri. Awalnya aku kira dia berbohong padaku. Tapi ternyata itu benar. Dia tidak membawa siapapun ketika masuk kamarku. Aku pernah memergokinya, laki-laki itu muncul tiba-tiba. Tepat, ketika Kak Anya masuk kamarku. Seolah-olah dia menunggu kedatangan Kak Anya. Awalnya aku sangat takut, tapi karena dia tidak melakukan apapun, aku berusaha untuk terbiasa. Walaupun terkadang aku masih kaget ketika laki-laki itu muncul.

"Kau mau makan atau mandi dulu, Al?" Tanya Kak Anya. "Aku mau mandi dulu saja" ucapku, "Baiklah, aku taruh makananmu di sini" ucap Kak Anya sambil menaruh roti isi di meja belajarku. Ah, sebenarnya aku mau makan dulu, tapi aku enggan melihat wajah laki-laki itu, jadi kuputuskan untuk mandi terlebih dahulu. Walaupun aku tahu, sebenarnya di depan pintu kamar mandi, di lorong rumahku dan di tangga menuju lantai bawah, juga ada makhluk sepertinya. Tapi tak apa lah, toh aku sudah terbiasa.

Aku beranjak dari kasur, mengambil handuk lalu keluar kamar. Yah..walaupun aku anak orang kaya, tapi ibu melarang membuat kamar mandi di dalam kamar. Entah apa alasannya. Jadi, kamar mandi di rumah ini ada tiga. Yang pertama, di lantai dua, dekat kamarku dan kamar orang tuaku, juga ada beberapa kamar tamu di sini. Kamar mandi letaknya di ujung. Tepat di samping kamar tamu nomor dua. Ada empat kamar tamu, dua di kiri, dua di kanan. Sementara kamarku dan kamar ayah ibu letaknya agak terpisah hanya saja masih satu koridor, dengan posisi kamar orang tua dan aku berada di tengah, kamar kami diapit dengan kamar tamu dan tepat di depan kamarku, hanya berjarak 10 langkah, adalah tangga. Kalau diibaratkan, mirip dengan huruf U.
Jadi, dinding kamarku dan kamar ayah ibu tak langsung berdekatan dengan kamar tamu. Aku melihat ke arah kamar mandi. "Ah..dia lagi.." batinku ketika melihat ada dia di sana.

"Pagi-pagi udah nongol aja". Dia adalah seorang nenek, rambutnya sebagian sudah putih dan bungkuk. Ada tongkat kayu yang dipegangnya. Dia juga tidak menyeramkan. Menurutku dia nenek yang ramah. Karena hanya dia yang punya tatapan ceria di wajahnya. Dia selalu menyapaku, dia bilang aku mirip dengan cucunya yang hilang di rumah ini. Aku tak mengerti apa maksud kalimatnya. Aku tak pernah peduli permasalahan hantu. Aku menyebut hantu-hantu yang kulihat itu 'maperu' singkatan dari kata "makhluk penghuni rumah", yah supaya mereka punya panggilan sayang saja, hehehe soalnya aku tidak punya seorang sahabat pun. Bagiku keramaian yang dibuat mereka sudah cukup mengusir kesepian yang aku alami selama ini. Banyak maperu yang ada di rumahku yang besar ini, jumlahnya ada puluhan, aku tak hapal siapa saja. Tapi yang kuingat hanya yang sering menampakkan diri saja padaku.
Dan di tiap kamar mandi ada maperunya. Kalau di kamar mandi bawah, letaknya di ujung, di sana ada anak kecil, dia tak pernah menampakkan wajahnya padaku, dia selalu menunduk, dia perempuan, dia sama seperti nenek itu, berdiri tak jauh dari pintu, rambutnya tak begitu panjang. Dia memakai sepatu yang menurutku sangat kuno. Baju gaun yang juga kuno dan jepit rambut berbentuk apel hijau. Dia yang paling aneh di antara semua maperu yang ada di rumahku, dia tak suka bermain dengan para maperu kecil yang lainnya. Dia hanya diam berdiri, tak pernah menyapa, dia sadar keberadaanku, jika aku datang, dia biasanya memutar kepalanya. Aku selalu bergidik ngeri ketika melihatnya seperti itu. Aku sangat takut jika tiba tiba dia menyerangku. Dan kamar mandi yang terakhir, letaknya di dapur. Dan maperunya adalah seorang remaja seusiaku.

Dia laki-laki. Namanya Egam. Si Egam ini, bentuknya lebih terlihat bersahabat, tapi dia bisa berubah menjadi mode seram ketika sedang marah. Mode seramnya penuh dengan darah, dari wajah sampai badan, dengan menunjukkan mata serta bibirnya saja yang terlihat. Lalu tangannya akan dilekuk-lekukkan seperti patah. Pernah mematahkan satu lidi dengan jumlah patahan yang banyak? Nah seperti itulah bentuk tangannya jika sedang mode seram. Dia berteman denganku. Dia baik, cepat marah dan pendengar yang baik.

Dia yang setia mendengar curhat-curhatku, dimulai dari curhat tentang orang tuaku sampai kepada soal percintaan. Aku ceritakan padanya. Walaupun dia kadang berubah jadi seram. Tapi setidaknya dia adalah pendengar yang baik.

Usai mandi, aku menuju kamar dan menyantap makanan dari Kak Anya. Aku sudah menduga pasti bakal ada yang ganggu saat aku sedang makan. Dan benar. Dia datang. Dia perempuan, rambutnya panjang, wajahnya berantakan, seram, ada banyak luka di wajahnya, senyumnya lebar, giginya penuh lendir berwarna merah, dan matanya hitam. Bajunya robek. Penuh noda. Tangannya bisa memanjang seperti karet. Dia suka menggodaku saat makan. Namanya Hayuna. Aku kenal dia dari Egam. Kata Egam, dia ratu di rumah ini. Ratu para maperu. Dia jail. Suka menggoda dan suka muncul tiba tiba di depanku. Dan dia jahat.

Bersambung...


No hay comentarios:

Publicar un comentario

Bertemu dengan Hantu (True Story) Part 15

Berteman dengan Hantu (True Story) Part 15 - PERTEMUAN PERTAMA DALAM 66 TAHUN by : Sinyoreborn Ane telah menceritaken semua ke Noni Van De W...