lunes, 5 de marzo de 2018

Mereka yang Tak Terlihat (True Story) - Part 2


Mereka yang Tak Terlihat (True Story)
Story by Meilani Mu'adzimah
Part 2

***
Kadang kalau ayah pulang, dia sering duduk di samping ayah, lalu mengambil foto-foto hasil potretan ayah. Dia lalu menyembunyikannya di dalam guci, kamar mandi, loteng, gudang dan ruangan yang jarang di pakai di rumah ini. Ayah akan menyalahkanku, berkata aku yang melakukannya. Dia marah padaku, ayah tak pernah percaya kalau itu perbuatan hantu. Dia bilang itu hanya alasanku saja agar tidak dimarahi, kau tahu apa yang dilakukan hayuna saat aku dimarahi? Dia tertawa. Tertawa keras. Dia bahagia melihatku dimarahi ayah, lalu aku yang mencari foto-fotonya. Dia kadang usil menjatuhkan guci-guci dirumah. Dia bahagia jika aku terkena masalah.

--------
Aku kaget melihat Hayuna, dia datang sambil nyengir lebar di depanku. Sontak saja aku melemparkan sarapanku ke arahnya, dia kembali tertawa karena sarapanku telak mengenai dinding kamarku, bukan dia. Selama ini dia tak pernah bicara padaku, selain senyum dan tawa jahatnya padaku. Kak Anya yang melihatku melemparkan makanan, bertanya kenapa aku melakukannya. Dia tanya apakah tidak enak? Aku hanya diam, menunduk takut. Bukan takut pada Kak Anya. Tapi pada Hayuna. Kak Anya membersihkan makanan yang berserakan. Aku minta maaf dan langsung pergi keluar, meninggalkan Kak Anya dan Hayuna di kamar. Sekilas aku melihat Hayuna tersenyum padaku. Aku cepat-cepat lari ke luar. Kak Anya sempat meneriaki aku hendak kemana. Aku sampai di tangga menuju lantai bawah, aku bisa melihat para pelayan sibuk merapikan rumah, dan juga ada beberapa maperu kecil yang bermain, wujud mereka beragam. Ada yang seram, imut, tak berbentuk dan ada yang cantik. Tapi, khusus untuk Maperu penunggu tangga, dia cantik. Wangi dan tinggi. Dia hanya duduk di anak tangga sambil bersenandung, senandungnya sangat merdu. Ah tapi dia juga sama seperti Egam, dia punya mode seram yang lebih bahaya dari pada Egam. Dia bisa berubah jadi raksasa. Wajahnya hancur. Dan tubuhnya bau. Aku tak suka dengannya. Bisa di bilang dia panglimanya Ratu Maperu. Aku tak tahu bagaimana ayah bisa mendapatkan rumah mewah ini, tapi bagiku ayah telah membeli kerajaan setan. Kau bisa melihat banyak hantu berlalu lalang di rumah ini. Seolah-olah kau berbagi tempat dengan mereka. Dan sialnya, hanya aku, Alza yang bisa melihatnya. Dulu aku pernah minta pindah rumah pada ayah, tapi ayah menolak, katanya ibu sedang banyak banyaknya dapat job. Sayang jika di biarkan. Aku menurut terpaksa. Bahkan dulu saat aku masih home schooling, aku selalu diganggu oleh Maperu. Terutama si Hayuna itu. Kurasa dia yang mengajak semua hantu disini untuk menggangguku dulu. Sama seperti kasus ayah yang kehilangan fotonya, aku kehilangan buku bukuku, pensil, pulpen dan alat tulis sekolahku. Dan lebih parah lagi, ada Maperu berwujud badut gendut, dia mirip sekali dengan badut di dunia nyata. Dia suka tertawa tiba-tiba dan mengejutkan aku dari belakang, terlebih lagi dia tidak berkaki. Bajunya robek di ujung-ujung bawahnya juga ada noda merah di sana. Berkat dia aku jadi takut pada badut. Tapi sekarang, aku sudah bisa sekolah seperti anak normal lainnya, dulu aku home schooling karena dokter memvonisku leukimia, tapi penyakit itu hilang ketika aku berusia 16 tahun.

----------
Setibanya aku di halaman depan, penuh perjuangan utk sampai ke halaman depan, jika tadi pelayan tidak menyapaku, mungkin Maperu tangga akan berubah jadi mode seram saat aku lewat di depannya. Dan Maperu kecil, mereka selalu berusaha mengajak aku main bersama. Dan yang paling sering mengajakku main adalah Maperu kecil dengan wujud yang tidak berbentuk, aku bahkan tak tahu dia laki laki atau permpuan, karena begitu bnyak noda merah di tubuhnya, dan wajahnya yang tak berbentuk, dia dipenuhi dengan darah. Aku menyebutnya Maperu Merah, dia seolah tahu kalau aku phobia darah, dia selalu mendekati aku, mengajakku main. "Kak ayo main" begitulah kalimatnya. Dan sampai phobia itu hilang dengan sendirinya.  Di halaman depan, juga banyak Maperu. Tapi mereka tak suka menggangu seperti yang ada di rumah. Wujud mereka lebih seram, kurasa mereka tadinya adalah korban kecelakaan. Warna merah sangat mendominasi di sini. Dan aku sudah sangat terbiasa melihat itu. Dimana-mana makhluk seperti mereka ada. Tadinya aku ingin menikmati suasana pagi yang damai. Tapi itu jarang kudapatkan, lihat saja pagi ini sudah puluhan yang mengganggu. Lalu ada satu hantu jalanan yang menarik. Dia kurus tinggi matanya seperti mata elang dan kepalanya bisa jatuh menggelinding ke jalanan. Lalu, tubuhnya mengejar sampai dapat. Itu lucu bagiku, kadang aku tertawa melihatnya. Aneh saja, dia menjatuhkan kepalanya sendiri lalu mengejarnya sendiri. Iya, itu hiburan bagiku.

--------
Keesokan harinya, aku mulai masuk ke akademi musik, ayah bilang lebih baik aku sekolah musik saja. Aku ambil piano sebagai alat musik pertamaku. Dan di ruang kelasku, ternyata tak jauh beda dengan rumahku selama ini. Di dalam kelasku yg baru ada 5 penghuni, yang satu menggantung di langit-langit, seperti sedang bunuh diri, lalu yang kedua ada di sudut kelas, tubuhnya penuh luka dan dia menangis, lalu di dekat piano, ada perempuan yang sedang ketakutan dan dua lagi, mereka bergelantungan di jendela, lehernya panjang, matanya besar kakinya bengkok dan selalu berkata "jaring-jaring". Ah..apakah hidupku akan terus begini?

-------
Hari itu kudapat banyak teman. Hari itu juga kami langsung pergi nonton, tahu yang kami tonton? Film horor. Teman-temanku pada teriak, terutama Ray saat menontonnya. Dia yg paling histeris. Aku? Aku tak sekalipun teriak. Hantu yang nyata lebih seram dibandingkan film. "Kau hebat al. Kau tak berekspresi apapun saat nonton tadi" ucap Ray. "Itu makananku setiap hari" ucapku sambil tersenyum. Ray mengernyitkan dahinya. Tapi belum sempat Ray bertanya apa mksudku. Zara sudah mengajak kami untuk makan.

----------
Sudah seminggu aku sekolah di akademi itu, dan ada satu temanku yang selalu ditempeli makhluk itu. Namanya Arka. Dia ditempeli seorang kakek yang berkulit hitam dan bau asap. Aku sempat tanya pada kakek itu kenapa dia mengikuti Arka. Dia bilang Arka tampan. Ah..kakek ini suka berondong rupanya. Batinku sambil tersenyum. Aku pernah sempat keceplosan bilang "Ka, gak ribet apa ditempelin kakek itu terus?". Arka bilang "Kakek apa sih al? Mana ada kakek disini, matamu rabun ya?" Nah ini tanggapan semua orang padaku jika aku bilang ada makhluk lain di dunia ini. Aku sudah biasa menanggapinya. Jadi layaknya seorang pendiam. Aku hanya tersenyum menjawabnya. Aku tak pernah beritahu siapapun tentang kemampuanku ini. Termasuk ayah dan ibu. Aku selalu memendamnya sendiri. Sampai aku sebulan masuk akademi. Kejadian yang sama kerap kali terulang. Dan parahnya..yang muncul sering hantu tak berbentuk, penuh luka, warna merah dan berseringai bahagia seperti Hayuna. Sejak aku masuk akademi, aku jarang menemui Egam. Egam seperti marah padaku.

Lalu dia muncul di kamarku dengan mode seramnya. Kaget bukan main saat melihatnya tiba-tiba muncul di depan wajahku. Dia bilang sekarang aku sombong. Walaupun ribuan maaf telah kulontarkan..dia masih tetap marah padaku. Dia bilang akan menggangguku selama seminggu bersama dengan Hayuna. Berkat mereka, aku jadi demam tinggi 3 hari, ini bukan karena Egam. Tapi Hayuna, batin dan fisikku masih tak kuat melihat wajahnya sesering itu. Mereka selalu muncul di depanku saat aku mau makan mandi tidur, apapun. Tepat di hari terakhir aku demam. Teror kemarahan Egam berakhir. Dan dia kembali jadi biasa. Juga Hayuna..bahkan kurasa yang perhatian padaku saat aku sakit adalah hantu. Bukan ayah dan ibu. Mereka bahkan tak menengok aku sekalipun. Hanya Kak Anya dan beberapa pelayan yang menengokku saat aku sakit, ya setidaknya ada dari golongan manusia.
Walaupun golongan jin yang paling bnyak menjengukku. Dan kau tahu? Yang paling perhatian adalah si Maperu Merah, dia yang sering datang ke kamarku untuk sekedar menengokku dan menanyakan "Apa kakak mau main?" Aku selalu pura-pura tidur saat dia datang..

---------
Tepat sebulan usai kesembuhanku. Ayah dan ibu mengajak kami pindah ke London, ayah bilang, ibu akan membuka cabang di sana, ternyata baju yang dia buat sudah menyebar ke negara itu, ayah terpaksa menjual rumah mewah kami yang penuh dengan Maperu. Haha.. aku bahagia hari itu, akhirnya mereka mengabulkan keinginanku untuk pindah rumah, walaupun itu bukan karena aku. Tapi berkat ibu, keinginanku terkabul. Ayah menjual semua mobil mewahnya juga, membawa serta para pelayan, juga babysitterku untuk pindah. Dan aku? Aku berpamitan dengan Egam. Dia tampak sedih saat kutinggalkan. Dan Hayuna, dia masih seperti dulu, tetap menyeringai lebar. Juga Maperu laki-laki bermata sendu di kamarku. Iya, sepertinya hanya Egam Maperu yang agak waras di rumah lamaku itu.
Ayah bilang, dia sudah membeli rumah yang jauh lebih mewah di London. Semoga saja, rumah itu tidak ada "Maperu" nya.

The End

No hay comentarios:

Publicar un comentario

Bertemu dengan Hantu (True Story) Part 15

Berteman dengan Hantu (True Story) Part 15 - PERTEMUAN PERTAMA DALAM 66 TAHUN by : Sinyoreborn Ane telah menceritaken semua ke Noni Van De W...